Penyadapan : Solusi dan Analisis

Nama : Dian Puspa Haruniasari

NPM   : 32412034

Kelas  : 2ID02

Solusi Indonesia Mengatasi Penyadapan

STAF Khusus Presiden Bidang Luar Negeri Teuku Faizasyah menilai, wacana pemutusan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) dan Australia pascamencuatnya kabar penyadapan terhadap Indonesia, belum perlu dilakukan. Pasalnya, Pemerintah Indonesia sejauh ini sudah menunjukkan sikap tegas terhadap kedua negara menyusul mencuatnya kabar penyadapan tersebut. ”Terlalu jauh (pemutusan hubungan diplomatik,” kata Faizasyah usai diskusi bertema sadap bikin tak sedap di Jakarta, Sabtu (9/11). Faizasyah menjelaskan, pemutusan hubungan diplomatik bukan solusi tunggal bagi Indonesia menyikapi aksi penyadapan AS dan Australia. Mengingat, masih ada solusi lain yang menunjukkan sikap tegas Pemerintah Indonesia dalam menolak penyadapan itu. ”Diplomasi itu spektrumnya sangat luas, dari A sampai Z. Ada bagian-bagian tertentu hubungan negara yang terganggu, tapi hal lain tetap dijaga, berlanjut,” kata Faizasyah.

Mantan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI ini menilai, sikap yang diambil pemerintah dengan memanggil Duta Besar AS dan Australia di Indonesia merupakan ekspresi tegas. ”Pemanggilan duta besar adalah wujud ekspresi yang sangat serius. Kalau suatu negara sudah panggil duta besar menyampaikan ketidaksenangan, dalam adab atau tata hubungan antarnegara adalah salah satu ekspresi yang sangat jelas,” tuturnya. Opsi pemanggilan tersebut, sambung Faizasyah, tak terlepas dari arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menginstuksikan agar mengambil sikap secara terukur.”Yang disebutkan Presiden kita harus terukur,” katanya.

Sebelumnya, Faizasyah mengatakan, Pemerintah Indonesia sudah menyampaikan sikap tidak senang atas kabar penyadapan yang dilakukan AS dan Australia. Penyadapan itu dikabarkan berlangsung di kantor Kedutaan Besar (Kedubes) kedua negara terkait. Namun, pihak AS maupun Australia belum menjawab tegas menyoal kabar penyadapan tersebut. Mereka tidak membantah dan membenarkan. ”Kalau kita ikuti posisi pasca pemanggilan (kedua negara itu), pertama mereka akan laporkan ke ibukota masing-masing soal ini. Dan yang kita dengarkan dan ikuti selama ini, (mereka) tidak membenarkan atau juga tidak membantah,” kata Faizasyah. Diakui Faizasyah, mencuatnya kabar penyadapan ini berpotensi merusak keyakinan yang sudah dibangun selama ini. Mengingat, kerjasama antarnegara tidak bisa dibangun di atas rasa curiga. ”Karena kita tidak bisa melakukan kerja sama kalau ada kecurigaan, karena hubungan negara ini sudah dijalani dengan sistem kepercayaan,” tegasnya lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, aksi penyadapan yang dilakukan AS dan Australia terhadap beberapa negara, termasuk Indonesia, diungkap oleh Edward Snowden. Pria berusia 30 tahun itu membocorkan aksi spionase atau mata-mata yang dilakukan AS melalui telepon dan internet. Dia sudah melarikan diri ke Rusia Juni lalu. Di Rusia, Snowden telah mendapatkan suaka. Informasi yang berhasil dihimpun juga menyebutkan, Snowden diketahui pernah bekerja di badan intelijen Australia yang dikenal dengan nama NSA dan badan intelijen AS, yaitu CIA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s